Perjalanan Ngeblog: Dari Tugas Sekolah hingga Menghasilkan Uang

Perjalanan Ngeblog

Apa itu Blogging? Blogging adalah kegiatan menulis dan membagikan tulisan secara online dalam bentuk blog. Dengan blogging, kita dapat menuangkan ide, pengalaman, atau informasi yang bermanfaat kepada pembaca di seluruh dunia. 

Ngeblog itu menyenangkan. Bukan hanya melatih imajinasi dan kemampuan menulis, tapi juga membuka jalan untuk belajar hal baru, bahkan bisa jadi sumber penghasilan.

Awal Mengenal Blogging

Semua bermula saat saya masih duduk di bangku SMK, masa-masa yang penuh keisengan dan sedikit kekonyolan. Di masa itulah, saya mulai mengenal dunia blog.

Saat masih kelas X, sekitar September 2014, Pak Arya (guru mata pelajaran Komputer dan Jaringan) mengenalkan kami dengan yang namanya “blog.” Kebetulan, contoh blog yang beliau tunjukkan adalah milik Mas Faiz, kakak kelas XII dari jurusan Akuntansi.

Pak Arya bercerita bahwa melalui blognya, Mas Faiz sudah bisa menghasilkan uang sendiri, lumayan untuk jajan sehari-hari. Mendengar hal ini, saya pun penasaran sekaligus heran. 

Kenapa anak jurusan Akuntansi bisa membuat blog sekeren itu? Dan bagaimana caranya blog bisa menghasilkan uang?

Beragam pertanyaan itu terus berputar di kepala saya hingga sesi pengenalan blog berakhir.

Tak lama kemudian, Pak Arya memberikan tugas membuat blog dan mengisinya dengan artikel. Isi kontennya bebas, bisa tugas sekolah atau materi pelajaran.

Berbekal HP Nokia C3-00 bekas, saya mulai belajar ilmu blogging secara otodidak. 


Saya membaca berbagai sumber untuk memahami cara menulis konten yang menarik, membuat judul yang bagus, hingga mempelajari dasar-dasar SEO.
SEO (Search Engine Optimization) adalah strategi mengoptimalkan konten agar muncul di halaman pertama Google, sehingga lebih mudah ditemukan dan dibaca orang. 

Misalnya kamu menulis artikel “Cara Menanam Cabai di Pot”. Jika SEO-nya baik, maka saat orang mencari “cara menanam cabai” di Google, artikelmu bisa muncul di halaman pertama.

Kalau diibaratkan, SEO itu seperti menaruh toko di pinggir jalan ramai—lebih mudah ditemukan dan dikunjungi.
Saya juga banyak belajar dari blog Mas Faiz, mulai dari desain hingga gaya penulisan. Blog beliau jadi semacam panutan atau ‘role model’ saya dalam dunia blogging.

Selain itu, blog milik Habib (teman sekelas saya) juga jadi inspirasi tersendiri. Setelah ngobrol dengannya, saya baru tahu kalau Habib ternyata sudah mulai ngeblog sejak SMP. Pengalamannya jelas jauh di atas saya yang baru saja mau mulai. Sejak itu, saya sering bertanya-tanya dan berbagi cerita soal blogging dengannya.

Dengan bantuan tutorial dari Google, saya akhirnya berhasil membuat blog pertama saya di asrurrifa.blogspot.com. Sayangnya, blog itu sudah tidak aktif karena saya lupa password emailnya.

Saya juga pernah mencoba platform MyWapBlog yang bisa diakses dari HP, tapi lama-kelamaan saya merasa bosan karena fitur-fiturnya sangat terbatas.

Karena saat itu saya belum memiliki laptop, saya sering pergi ke warnet untuk belajar ngeblog. Terkadang, saya juga meminjam laptop teman di jam istirahat untuk menulis dan mengembangkan blog.

Seiring waktu, alhamdulillah, akhirnya Ayah membelikan saya laptop, dan saya pun langsung membuat blog baru untuk mempraktikkan ilmu yang sudah saya pelajari.

Di awal-awal ngeblog, saya sering menyalin artikel orang lain alias copas. Saat itu saya merasa cara ini yang paling mudah — tinggal salin, tempel, lalu terbitkan. Tapi makin lama, saya mulai sadar kalau itu bukan cara yang baik. Tidak adil rasanya kalau saya hanya mengambil manfaat tanpa usaha. 

Akhirnya, saya belajar menulis sendiri. Prosesnya memang tidak instan. Saya sering menulis dulu di kertas, mencari referensi dari Google, mencatat poin penting, lalu menulis ulang dengan bahasa saya sendiri. 

Kalau ada kalimat yang terasa kurang enak dibaca, saya revisi lagi sampai pas. Proses ini memang melelahkan dan menyita waktu, tapi justru dari situ saya benar-benar belajar.

Tulisan-tulisan itu mulai saya posting di blog asrur07.blogspot.com, yang kemudian saya ganti menjadi asrurr.blogspot.com. Awalnya blog ini saya isi dengan artikel seputar dunia blogging. Tapi karena ilmu saya masih terbatas, akhirnya saya ganti fokus ke konten pelajaran sekolah.

Menuju Blog yang Lebih Serius

Memasuki kelas XI, sekitar Juni 2015, saya mulai lebih serius. Saya memisahkan konten pelajaran ke blog baru yang saya namakan Siswa Master (siswamaster.blogspot.com), sementara blog asrurr saya isi dengan tulisan-tulisan pribadi.

Blog Siswa Master saya niatkan jadi tempat berbagi sekaligus ladang penghasilan. Saya pilih topik pendidikan karena mudah dikembangkan dan masih nyambung dengan materi sekolah. Sambil belajar, sambil berbagi — ibaratnya sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Setelah berbulan-bulan membangun blog, jumlah artikel semakin bertambah dan trafik pun mulai naik, dengan rata-rata 300 hingga 500 pengunjung per hari. Puncaknya, pada 26 Januari 2016, blog saya mencatat 666 pengunjung dalam sehari. Waktu itu saya benar-benar senang dan bangga.


Saking senangnya, saya mengunggah screenshot statistik blog ke Facebook. Layaknya pemula yang lagi semangat-semangatnya, saya ingin berbagi kabar gembira.

Namun, kesenangan itu berujung petaka. Akun saya diretas oleh seorang teman silat yang dulu pernah saya beri akses email. 

Tanpa sepengetahuan saya, ia mendaftarkan blog saya ke Google AdSense, namun blog saya ditolak mentah-mentah karena konten dan trafik yang dianggap kurang memadai. Setelah itu, saya langsung mengubah kata sandi dan pengaturan lainnya untuk mengamankan akun.
Google AdSense adalah layanan dari Google yang memungkinkan kamu menghasilkan uang dari website atau blog dengan menampilkan iklan.

Misalnya kamu punya blog tentang resep makanan. Setelah mendaftar AdSense, Google akan menampilkan iklan yang relevan (misalnya iklan alat masak). Setiap ada pengunjung yang klik iklan itu, kamu dapat penghasilan.

Google AdSense = pasang iklan dari Google di blog → dapat uang dari klik iklan.

Mencari Jalan dan Terus Belajar

Ketika trafik mulai melonjak hingga ribuan pengunjung, saya mengganti domain blog menjadi siswamaster.com agar terlihat lebih profesional. Selain itu, saya membeli template premium supaya tampilan blog lebih minimalis dan nyaman dibaca.

Setelah kejadian akun diretas, trafik blog justru terus meningkat. Melihat perkembangan itu, saya mulai tertarik untuk mencoba lagi mendaftarkan blog ke Google AdSense, dengan harapan kali ini bisa diterima.

Sayangnya, mendaftar AdSense tidak semudah yang saya bayangkan. Berkali-kali blog saya ditolak. Rasa kecewa pasti ada, tapi saya tidak menyerah. Saya mencoba mencari alternatif periklanan lain, akan tetapi hasilnya belum memuaskan. 

Sampai akhirnya, saya dapat saran dari teman saya, Mei Moko, untuk mencoba sistem kerja sama Joint Venture (JV). Intinya, kita kerja sama dengan pemilik akun AdSense yang sudah disetujui Google. Saya hanya perlu memasang iklan mereka di blog saya, lalu bagi hasil dari pendapatan yang masuk.

Saya pun mulai mencari JV yang terpercaya dan akhirnya saya menemukan penawaran dari blog Sugeng.id — blog yang sudah terkenal di kalangan blogger. 

Perjalanan Ngeblog

Pada tanggal 24 Agustus 2016, saya mencoba menawarkan blog Siswa Master untuk kerja sama JV AdSense dengan trafik sebagai berikut:


Setelah lolos seleksi, saya mulai memasang iklan AdSense di blog. Dan... akhirnya, untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakan hasil dari ngeblog. Senang sekali rasanya.

Pertama Kalinya Mencicipi Hasil

Dari kerja sama ini, saya mendapat pembagian hasil 70% untuk saya dan 30% untuk Mas Sugeng. Berikut pendapatannya:

  • Agustus 2016 (ditarik 22 September): Rp 87.072,13
  • September 2016 (ditarik 22 Oktober): Rp 386.509,20
  • Oktober 2016 (ditarik 22 November): Rp 278.682,95
  • November 2016 (ditarik 22 Desember): Rp 83.045,20

Meskipun belum banyak, saya sangat bersyukur. Uang ini bukan hanya nominal, tapi bukti dari proses belajar dan usaha yang saya jalani dari nol.

Dengan penghasilan itu, saya berencana membeli akun AdSense sendiri. Awalnya saya membeli dari grup Facebook karena harganya murah, tapi ternyata... saya tertipu. Penjual menghilang setelah saya transfer uang. Uangnya hilang, akun pun tidak dikirim.

Namun, saya tidak patah semangat. Dengan gajian berikutnya, saya kembali mencoba membeli akun AdSense, tetapi kali ini pakai jasa rekber (rekening bersama) supaya aman. Akhirnya, saya memiliki akun AdSense sendiri dan mulai memasang iklan di blog.
Rekber (rekening bersama) adalah jasa perantara untuk menjaga keamanan transaksi online antara penjual dan pembeli.

Cara kerjanya: pembeli transfer uang ke pihak rekber → penjual kirim barang → setelah barang diterima pembeli, rekber kirim uang ke penjual.

Rekber = perantara agar transaksi online aman.
Pada tanggal 23 Januari 2017, saya resmi merasakan gajian pertama dari akun AdSense milik sendiri. Sejak saat itu, saya mulai menikmati manisnya hasil kerja keras meski pencairan uang baru bisa dilakukan setiap 2-3 bulan sekali.


Blog akhirnya terus mengalami peningkatan dari segi trafik dan pendapatan. Saya juga mulai memantau blog lewat Google Analytics. Dari sana, saya bisa lihat data pengunjung secara detail: siapa yang berkunjung, dari mana asalnya, dan artikel mana yang paling banyak dibaca.

Data Trafik dari Google Analytics

Puncaknya terjadi pada 9 Agustus 2017, saat blog Siswa Master mencatat trafik tertingginya. Sebuah angka yang mungkin dulu hanya jadi angan-angan, kini jadi kenyataan. Saya merasa kerja keras saya selama ini mulai membuahkan hasil.

Trafik Tertinggi: 31 Ribu Penayangan per Hari

Harapan yang Kandas

Setelah lulus dari SMK Negeri 1 Banyumas, saya memutuskan untuk pergi ke Sumedang, tempat tinggal orang tua saya, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung. Saat itu, harapan saya sederhana: mendapatkan pekerjaan atau, kalau memungkinkan, memulai bisnis.

Di masa-masa itu, saya mulai belajar berjualan di marketplace dan muncul keinginan: bagaimana kalau blog saya dijual saja, jadi modal awal bisnis?

Saya pun mulai cek harga pasaran blog. Katanya, nilai blog biasanya 5–8 kali lipat dari penghasilan bulanan. Dari situ, saya memperkirakan blog Siswa Master bernilai sekitar Rp9 juta.

Saya mulai menawarkan blog di grup-grup Facebook. Banyak yang tertarik, tapi belum ada yang cocok di harga. Sampai akhirnya, ada satu pembeli yang langsung setuju tanpa banyak tanya.

Kami sepakat untuk menggunakan rekber agar transaksi aman. Setelah uang ditransfer ke rekber, saya serahkan semua akses: email, domain, dan data penting lainnya kepada pembeli. Semua berjalan sesuai rencana — atau setidaknya, saya pikir begitu.

Setelah semua data blog saya serahkan, saya tinggal menunggu dana cair dari pihak rekber. Tapi... yang saya tunggu tak kunjung datang.

Beberapa saat kemudian, saya mulai curiga. Saya coba hubungi pihak rekber dan pembeli, tetapi jawabannya menghilang. Tidak ada kabar. Saya panik, tapi masih mencoba tenang.

Sayangnya, benar saja. Ternyata, saya ditipu. Pihak rekber yang saya percaya ternyata adalah rekan dari si pembeli, atau mungkin malah akun milik pembeli itu sendiri.

Uang tidak pernah saya terima, dan blog yang sudah saya bangun bertahun-tahun lenyap begitu saja. Niat awal ingin mendapat modal untuk memulai bisnis, malah berujung kerugian besar. 

Blog Siswa Master akhirnya berpindah tangan ke orang yang tak bertanggung jawab, dan isinya pun berubah jadi hal-hal yang aneh dan tidak jelas. Sangat disayangkan, karena blog itu dulunya punya misi edukatif.

Dari kejadian ini, saya jadi belajar banyak hal. Beberapa kesalahan saya yang patut jadi pelajaran:

  • Biasanya saya pakai jasa rekber yang sudah terpercaya dan sering dipakai. Tapi entah kenapa, kali ini saya menerima usulan rekber dari pembeli, yang ternyata palsu.
  • Saat itu, saya kurang teliti dan tidak mengecek lebih dalam siapa sebenarnya pihak rekber itu — yang ternyata akun milik pembeli sendiri atau pihak yang bersekongkol dengannya.
  • Transaksi pun saya lakukan di waktu yang kurang tepat. Kalau tidak salah, saat itu saya melakukan transaksi menjelang Maghrib. Dalam kondisi lelah dan kurang fokus, saya lengah dalam banyak hal dan terburu-buru.

Qaddarallah ‘ala kulli hal — semua sudah menjadi takdir Allah. Saya hanya bisa mengambil hikmah dan menjadikan ini sebagai pelajaran berharga untuk ke depannya.

Setelah kejadian itu, saya memutuskan untuk istirahat sejenak dari dunia blog dan kembali ke Sumedang.

Membangun Lagi dari Nol

Rasanya memang berat kehilangan blog yang sudah saya bangun bertahun-tahun, tapi saya tahu satu hal: hidup harus terus berjalan

Beberapa waktu kemudian, saya mulai mencoba menjadi penulis lepas di sebuah blog yang membayar per artikel tayang. Saya juga kembali membangun blog bertema teknologi, disertai beberapa blog lainnya.

Bermodal pengalaman membangun blog sebelumnya, saya sudah memiliki gambaran bagaimana mendatangkan pengunjung. Dengan pendekatan yang kurang lebih sama, ditambah beberapa perbaikan, blog baru saya mulai menunjukkan peningkatan trafik.

Saya kemudian mencoba memasang iklan AdSense dan mulai memperoleh penghasilan kembali. Namun, karena beberapa alasan, akhirnya blog tersebut saya jual seharga kurang lebih Rp3 juta.

Saya juga pernah membuat blog bertema ojek online. Ketika blog tersebut mulai mendapat pengunjung, saya menjualnya pada 6 Desember 2018 seharga Rp600 ribu karena kesulitan mengembangkan ide konten lebih lanjut.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, saya belajar banyak hal: bagaimana membangun blog dari nol, bagaimana menilai dan menjual blog, dan yang terpenting bagaimana menjaga keamanan saat bertransaksi online.

Beralih ke WordPress dan Terus Berkembang

Selama ini, saya memang nyaman menggunakan Blogger. Platform ini ringan, gratis, dan cocok untuk pemula. Tapi setelah cukup lama di dunia blogging, saya merasa ada yang kurang. Banyak fitur terbatas, dan saya ingin punya kontrol lebih dalam mengelola blog.

Akhirnya, saya memutuskan untuk pindah ke WordPress karena menawarkan ekosistem yang jauh lebih luas, seperti plugin SEO, beragam tema, serta dukungan komunitas yang besar. Ini sangat cocok jika blog digunakan untuk menghasilkan uang dan keperluan jangka panjang.

Di awal, tentu lumayan kagok. Saya belajar dari nol lagi: mulai dari cara sewa hosting, pasang domain, instalasi WordPress, penerapan SEO, sampai eksplorasi plugin dan tema yang cocok. Tapi justru di situlah serunya — saya merasa seperti membuka babak baru dalam perjalanan ngeblog.

Dari situ, saya membangun blog baru bertema teknologi dan bisnis. Keduanya terus saya kembangkan dan saya optimasi hingga mulai mendapatkan pengunjung secara konsisten.

Coba Beli Blog Orang Lain

Pada tahap ini, saya juga mulai coba membeli blog milik orang lain. Saya sempat menemukan blog yang dijual di grup Facebook dan kelihatannya potensial, jadi saya beli.

Namun, blog tersebut ternyata lebih cocok untuk niche tren yang terus berubah, sedangkan saya kurang menguasai tema itu. Akhirnya, blog tersebut saya biarkan saja. Tapi, seingat saya, blog ini sudah balik modal, jadi tidak rugi sepenuhnya.

Sementara itu, dua blog utama saya yang bertemakan teknologi dan bisnis terus saya kelola dan berkembang secara bertahap.

Mengenal Hidayah

Di tengah kesibukan dunia digital dan aktivitas ngeblog, saya diberi nikmat yang jauh lebih besar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: kesempatan untuk mengenal Islam lebih dalam

Allah memudahkan langkah saya dalam menuntut ilmu agama, mempertemukan saya dengan komunitas yang baik, guru-guru yang sangat luar biasa, serta sahabat-sahabat yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan. 

Duduk bersama mereka, mendengar nasihat mereka, bahkan sekadar melihat wajah mereka — semuanya menyejukkan dan mengingatkan saya pada akhirat.

Dalam perjalanan menuntut ilmu tersebut, saya mulai merenungi ulang penghasilan dari AdSense. Ternyata, ada beberapa hal yang kurang sejalan dengan syariat. 

Salah satunya yaitu soal iklan yang muncul. Meskipun saya sudah menyaring iklan-iklan seperti judi, alkohol, atau asuransi, tetap saja tidak bisa mengontrol semuanya. Kadang masih muncul iklan yang menampilkan aurat atau hal lainnya yang melanggar syariat.

Keresahan ini terus mengganggu hati dan pikiran saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjual blog tersebut. Waktu itu, saya juga sudah punya penghasilan lain dari berjualan di marketplace, jadi melepaskan blog bukan masalah besar.

Pada 9 Juni 2021, saya resmi menjual blog tersebut dengan nominal yang cukup besar. Karena adanya proses pemindahan data dan urusan teknis lainnya, transaksi baru benar-benar rampung dua hari setelahnya. Hari itu menjadi momen terakhir saya menggunakan AdSense sebagai sumber penghasilan dari blog.

Setelah itu, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak dari dunia blogging.

Hikmah dari Perjalanan Ini

Selama menapaki perjalanan sebagai seorang blogger, ada banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Berhati-hatilah dalam membagikan data-data penting

Jangan sembarangan memberikan informasi sensitif seperti email atau akses akun kepada orang lain, bahkan kepada teman sendiri. Segala bentuk kerja sama harus dipertimbangkan dengan matang dan disertai kehati-hatian.

2. Hindari transaksi besar di waktu yang kurang tepat

Usahakan tidak melakukan transaksi besar pada sore atau malam hari. Di waktu-waktu tersebut, tubuh dan pikiran biasanya sudah lelah, sehingga lebih rentan mengambil keputusan secara impulsif dan terburu-buru.

3. Selalu verifikasi lawan transaksi

Penting untuk selalu memeriksa identitas dan reputasi pihak yang ingin bertransaksi secara online. Jangan hanya percaya karena terlihat meyakinkan, pastikan akun dan informasi yang digunakan benar-benar dapat dipercaya.

4. Belajar dari kegagalan tanpa menyalahkan takdir

Meski pernah ditipu atau mengalami kegagalan, jangan sampai kita mengutuk keadaan. Semua yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Yang perlu kita lakukan adalah bangkit, terus berusaha, berdoa, bertawakal kepada-Nya, dan mengambil hikmah atas setiap kejadian sebagai pelajaran berharga.

5. Pastikan sumber penghasilan halal

Carilah penghasilan dari jalan yang benar-benar halal dan jelas. Hindari sumber yang masih samar atau meragukan. Insyaallah, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Hati pun akan menjadi lebih tenang, dan hidup lebih berkah.

6. Terus melatih keterampilan dan mencoba peluang baru

Di era digital yang serba cepat, kita perlu terus mengasah keterampilan dan terbuka terhadap peluang baru. Setelah berhenti dari dunia blog dan Adsense, saya mulai fokus membangun usaha yang lebih sesuai dengan nilai-nilai syariat. Ternyata, ketika kita berani meninggalkan yang meragukan, Allah akan bukakan jalan lain yang lebih baik.

7. Pentingnya menuntut ilmu agama

Ilmu agama adalah penjaga diri dari perbuatan yang dilarang. Dengan ilmu agama, kita bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Inilah kunci keselamatan dan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

Saya sangat bersyukur kepada Allah atas semua pengalaman ini.

Terima kasih saya ucapkan kepada kedua orang tua dan keluarga saya yang senantiasa memberi doa dan dukungan. Terima kasih juga kepada Pak Arya, Mas Faiz, Habib, Mei Moko, dan teman-teman lainnya yang telah membersamai perjalanan saya selama berkecimpung di dunia blog.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Jazaakumullahu khairan wa baarakallahu fiikum. Aamiin.

Tulisan ini diperbarui pada:

  • 20 Oktober 2018
  • 22 Juli 2025 (penambahan data, kisah jatuh bangun, dan seterusnya)
  • 23 Juli 2025 (penyesuaian kata dan struktur kalimat)

6 komentar

  1. Keren bro.. Gagasan itu layak utk diperjuangkan. Ya..! Saya juga merasakan masa-masa tsb dan sekarang sedang muwujudkan mimpi saya membangun Rumah Blog di tempat tinggal sy dikampung. Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga gan, terimakasih komentarnya...
      artikel ini sayangnya belum diperbaharui, alhamdulillah sekarang sudah menghasilkan walau belum seberapa...

      Hapus
  2. perjalanan yang hebat, smoga sukses terus bro... btw d komentar sya baca akhirnya kini sdah dpt penghasilan dri blog. slamat ya.. Klo boleh tau, drimna dpt pnghasilannya bro? sya blogger pemula bro jd blm bnyak tau... tlong d jlasin ya thanks

    BalasHapus
  3. Keren juga nih bang asrur

    BalasHapus

Silakan berkomentar ..