Dahsyatnya Tauhid Dalam Kehidupan 5 Pemimpin Dunia-Akhirat

  
📘 Resume Tabligh Akbar

  • Pemateri: Ustadz Khaidir bin Muhammad Sunusi ḥafiẓahullāh
  • Waktu dan Tempat: Ahad, 20 Juli 2025 di Masjid 99 Kubah CPI – Makassar
  • Disusun dan ditulis oleh: Muhammad Jamil ḥafiẓahullāh Ta‘ālā
  • Diedit dan disesuaikan (di blog ini) oleh: Asrur Rifa  – semoga Allah mengampuniku
  • Videohttps://www.youtube.com/live/ItAXfJSQ2_Y?si=rRwWVR7L0A6vI0yd
____________________________________

Kaum Muslimin dan Muslimat, jamaah pengajian umum yang dimuliakan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. 

Kita bersyukur kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā semata, karena nikmat-Nya, karena kebaikan-Nya, kita dapat berkumpul di tempat terbaik di muka bumi, yakni di rumah dari rumah-rumah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. 

Kita bersyukur, memuji, memuja, dan menyanjung-Nya atas nikmat majelis ilmu yang kita harapkan menjadi raudhah min riyādhil-jannah — taman dari taman-taman surga — yang kita harapkan menjadi awal dari perjalanan menuju taman-taman surga di akhirat kelak. 

Kita bersyukur, memuji, mengagungkan, dan menghambakan diri kepada-Nya. Karena dengan izin-Nya lah kita diberi kekuatan. Dialah yang memberikan segalanya: berbagai nikmat dan segala hal yang menyelamatkan kita dari bahaya. 

Dialah Ar-Raḥmān, Ar-Raḥīm, Al-Jawād, Al-Mannān, Al-Wahhāb, Ar-Raḥīm, Al-‘Azīz, Al-Ghaffār. Dialah Al-Ḥakīm, Al-‘Azīz, As-Samī‘, Al-‘Alīm — Sang Pemilik nama-nama terindah, nama-nama termulia, dan sifat-sifat tertinggi. 

Hanya Dia lah yang berhak disembah, diagungkan, dimuliakan, dan kepada-Nya lah segala bentuk penghambaan diserahkan. Dia lah yang dicintai dengan puncak cinta, diharapkan dengan harapan yang seluas-luasnya, dan ditakuti dengan rasa takut yang terdahsyat  — semata karena kebesaran dan keagungan-Nya.

Dialah yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tertinggi dan teragung, sehingga seluruh bentuk penghambaan hanya diperuntukkan kepada-Nya — tidak kepada selain-Nya. 

Saat kita mampu mengkhususkan penghambaan hanya kepada Allah dan tidak kepada selain-Nya, maka di sanalah makna tauhid benar-benar terwujud.

Inilah tema utama dalam tabligh akbar ini, terurai dalam materi demi materi yang disampaikan oleh para asātidzah dan asy-Syaikh ḥafizhahumullāhu ta‘ālā.

Mengenal Tauhid

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Kata tauhid berasal dari kata: وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيدًا

Tauhid merupakan mashdar (kata dasar) dari fi'l (kata kerja) yang bermakna “menjadikan sesuatu itu satu.” 
Tauhid tidak akan terwujud kecuali dengan dua hal:

  1. Menafikan (nafy)
  2. Menetapkan (itsbāt)

Yaitu, menetapkan ulūhiyyah, penghambaan, puncak cinta, harapan, rasa takut, dan pengagungan hanya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, serta menafikannya dari selain Allah. 

Inilah tauhid, yang merupakan makna dari kalimat tauhid 
Lā ilāha illallāh.” 

Kalimat ini adalah kalimat yang dengannya langit dan bumi diciptakan, kalimat yang menjadi dasar pengutusan para nabi dan penurunan kitab-kitab. Kalimat yang dengannya jihad ditegakkan dan surga serta neraka ditentukan. Kalimat ini pula yang menjadi sebab penciptaan kita. 

Sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā:

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Kalimat Tauhid adalah Syariat Terbesar

Sebagaimana firman-Nya:

 وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

Rabb kalian telah menetapkan agar kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya.” (QS. Al-Isrā’: 23)

Kalimat tauhid adalah hak yang paling besar dan paling agung. Dalam surat An-Nisā’, Allah menyebutkan sepuluh hak, dan yang pertama disebutkan adalah: 

 وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Beribadahlah hanya kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisā’: 36)

Setelah itu, barulah disusul dengan perintah lainnya:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ

Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kepada kerabat, anak-anak yatim, fakir miskin...”

Beribadahlah kalian hanya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan siapa pun juga. Kemudian datang perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dengan bakti yang terbaik, lalu kepada kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan seterusnya. 
Hak terbesar adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta'ala serta membersihkan diri dari segala bentuk kesyirikan. 

Tauhid: Inti Dakwah Para Nabi dan Rasul

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Karena kalimat inilah para nabi dan rasul diutus, dan karena kalimat ini pula kitab-kitab diturunkan.

Sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّاغُوتَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah ṭāghūt (segala yang disembah selain Allah).’” (QS. An-Naḥl: 36)

Beribadahlah kalian hanya kepada Allah, dan tinggalkan serta jauhilah segala yang disembah selain Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Tidak ada satu pun nabi atau rasul melainkan membawa seruan ini. Mereka datang membawa kitab, membawa wahyu, menyampaikan perkara tauhid — yang dengannya bumi menjadi damai, keamanan terwujud, hidayah tersebar, dan kedamaian dalam kehidupan dunia diraih. Dan semua itu hanyalah awal dari manfaat kalimat tauhid ini. 

Sebab ketika datang sakaratul maut, kalimat tauhid memberikan efek dan pengaruh yang dahsyat bagi mereka yang benar-benar mengucapkannya dengan ilmu dan keyakinan. 

Dan setelah sakaratul maut berakhir, kedahsyatan kalimat ini semakin nampak (nyata) di alam barzakh.

Kemudian, saat manusia dibangkitkan di negeri akhirat, kalimat ini memberikan cahaya yang sehebat-hebatnya bagi mereka yang telah mengumpulkan cahaya itu selama di dunia. 

Kalimat ini adalah penyelamat. Dengannya seseorang mampu melintasi Ash-Shirāṭ, selamat dari neraka, dan masuk ke dalam Surga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. 

Bahkan di dalam surga sekalipun, kedudukan seseorang ditentukan oleh kalimat “Lā ilāha illallāh.” 

Awal Penciptaan dan Permulaan Tauhid di Muka Bumi

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. 

Setelah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menciptakan para malaikat, jin, dan iblis, Dia kemudian menciptakan Nabi Ādam ‘alaihis-shalātu was-salām untuk menempati bumi — yang dengannya akan diturunkan syariat-syariat, kitab-kitab, dan diutus para nabi serta rasul. 

Namun demikian, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengajarkan kepada kita hikmah yang sangat banyak melalui penciptaan Nabi Ādam ‘alaihis-salām.

Awalnya, Nabi Ādam tinggal di surga, di atas langit. Surga yang kelak akan menjadi tempat yang lebih sempurna, yang akan dimasuki oleh Nabi Ādam dan keturunannya yang bertakwa.

Di surga itu pula, Allah memuliakan Nabi Ādam ‘alaihis-shalātu was-salām dengan ilmu. Namun kemudian, beliau tergoda oleh iblis — la‘natullāh ‘alaih — sehingga akhirnya diturunkan ke muka bumi, yang sejatinya merupakan tujuan utama dari penciptaannya.

Turunnya Petunjuk dari Allah

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menegaskan dalam firman-Nya: 

 فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمۡ مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati” (QS. Al- Baqarah: 38)

Allah menegaskan, saat Nabi Ādam diturunkan ke bumi, maka akan datang "huda" (petunjuk) dari-Nya. Dan barang siapa mengikuti petunjuk tersebut:

  • Allah jamin hidayah bagi mereka.
  • Allah jamin keselamatan bagi mereka.
  • Allah jamin keamanan bagi mereka.
  • Allah jamin mereka akan terhindar dari kesedihan dan kegelisahan.

Dalam ayat lain, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā juga berfirman:

 فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Ṭāhā: 123)

Benar. Siapa pun yang mengikuti petunjuk Allah:

  • Tidak akan sesat.
  • Tidak akan celaka.
  • Tidak akan bersedih, tidak akan gelisah, dan tidak akan khawatir.

Itulah ketentuan (janji) pasti dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Huda Itu Adalah Tauhid

Huda yang dimaksud adalah kalimatut tauhid ini. Dan jadilah manusia setelah turunnya Nabi Ādam ‘alaihish-shalātu was-salām di atas nilai-nilai tauhid ini. Tidak ada kesyirikan; ada pelanggaran, pembunuhan, dan hal-hal yang semakna dengannya.

Namun, tauhid tetap tegak, turun-temurun kepada anak cucu Ādam sampai sekitar sepuluh abad, sepuluh generasi kemudian, muncul kesyirikan.

Melalui proses yang sangat panjang, melalui proses yang sangat hebat, setan bersama tentaranya — la‘natullāh ‘alaih — berhasil merusak tauhid ini. Merusak pedoman besar dalam hidup ini: untuk bertauhid, memperhambakan diri hanya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Pemimpin Pertama: Nabi Nūḥ  

Muncullah kesyirikan, maka diutuslah rasul pertama di muka bumi, yaitu Nūḥ ‘alaihis-shalātu was-salām. Inilah pemimpin dunia pertama yang menjadi judul pembahasan kita. 

Nūḥ ‘alaihis-shalātu was-salām berdakwah kepada tauhid selama 950 tahun, yang pada akhirnya Allah menyelamatkan orang-orang yang bertauhid, dan menenggelamkan orang-orang yang menentang tauhid. 

Selanjutnya, yang hidup hanyalah keturunan orang-orang yang beriman, keturunan Nabi Nūḥ dan para pengikutnya yang beriman setelahnya. 

Pemimpin Kedua: Nabi Ibrāhīm 

Kemudian, kesyirikan kembali terwujud. Maka diutus kembali nabi dan rasul oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Demikian seterusnya, hingga Allah mengutus nabi dan rasul yang termulia, yaitu Khalīlullāh Ibrāhīm ‘alaihis-shalātu was-salām, yang mengajak kepada tauhid, kepada penghambaan yang murni hanya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, bukan kepada selain-Nya. 

Akhir dakwah beliau adalah sebagaimana akhir dakwah Nabi Nūḥ ‘alaihis-shalātu was-salām. 

Beliau semakin dimuliakan, dan seluruh pengikutnya pun dimuliakan, sedangkan orang-orang yang menentangnya direndahkan, dihinakan, dinistakan, dan betul-betul dijadikan sebagai pelajaran bagi seluruh umat setelahnya.

Namun demikian, kesyirikan tetap kembali terwujud. Kesyirikan... 

Diutusnya Nabi dan Rasul untuk Menegakkan Tauhid

Diutuslah selanjutnya nabi dan rasul Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā untuk menegakkan tauhid. Yang akhirnya selalu berujung kepada dua hal:

  • Kemenangan bagi yang menerima tauhid dan hidup di atasnya,
  • Kenistaan, kerendahan, penghinaan, dan kebinasaan bagi mereka yang menolak tauhid dan bergelimang dalam lumpur kenistaan serta kesyirikan.

Pemimpin Ketiga: Nabi Mūsā 

Sampai akhirnya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengutus Nabi Mūsā ‘alaihis-shalātu was-salām, Kalīmur-Raḥmān, pemimpin dunia ketiga, yang diajak berbicara langsung oleh Allah, dan kepada beliau diturunkan Taurat — kitab yang tidak tertandingi di zamannya, bahkan merupakan kitab termulia dari seluruh kitab yang Allah turunkan selain Al-Qur’an. 

Dakwah Nabi Musa ‘Alaihis Salām

Beliau berdakwah dengan kedahsyatan, dengan kehebatan, dengan kesabaran, yang menunjukkan nilai dan hasil yang tak tertandingi.

Beliau berhasil menyadarkan Bani Israil yang sangat keras, yang sangat keras, dan sangat keras. Tapi bersamaan dengan itu, dakwah beliau tetap membuahkan hasil.

Umat Nabi Mūsā dalam Pandangan Nabi Muḥammad ﷺ

Ketika Nabi Muḥammad ﷺ diperlihatkan umat Nabi Nūḥ dan umat Nabi Mūsā ‘alaihis-salām, beliau ﷺ berkata: 

“Ini umatku. Ini umatku.” 

Karena beliau yakin bahwa kumpulan manusia yang sangat banyak itu adalah umat beliau. Ketika diperlihatkan seorang nabi bersama manusia dalam jumlah besar, hingga terlihat menghitam karena banyaknya (tak bisa dihitung), beliau ﷺ memastikan: "Ini umatku."

Namun, Jibrīl ‘alaihis-salām menjelaskan: 

 هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ

“Ini adalah Musa dan kaumnya.”

Adapun umat Nabi Muḥammad ﷺ, apa yang diperlihatkan setelah itu lebih besar, lebih hebat, lebih mulia, dan bersama mereka: 

 سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ

“70.000 orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.” 

Kesabaran Nabi Musa Menjadi Teladan

Nabi Mūsā ‘alaihis-salām berdakwah dengan kedahsyatan dakwah dan kesempurnaan kesabaran. 

Bahkan, Nabi Muḥammad ﷺ yang memiliki kesabaran lebih hebat pun menjadikan Nabi Mūsā ‘alaihis-salām sebagai teladan terbesarnya dalam kesabaran. 

Mengapa demikian?

Karena ketika beliau ﷺ menghadapi guncangan (ujian berat), tantangan, dan tekanan, kalimat yang sering terucap dari lisan beliau yang mulia adalah:

رَحِمَ اللَّهُ مُوسَى، قَدْ أُوذِيَ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

Semoga Allah merahmati Musa. Sungguh, beliau telah diganggu lebih berat dari ini, namun ia tetap bersabar.” (HR. al-Bukhārī no. 3405, Muslim no. 1792)

Sungguh beliau telah diganggu dan diguncang lebih hebat dari apa yang saya alami, namun beliau tetap bersabar. Maka Nabi ﷺ pun semakin bersabar. 

Kemenangan dengan Tauhid

Inilah Nabi Mūsā ‘alaihis-shalātu was-salām, yang berhasil mentauhidkan umat dengan tauhid yang sangat dahsyat.

Sehingga terwujudlah di bumi keamanan, kedamaian, kebahagiaan, dan ketenteraman. Sebab, semua itu adalah kepastian dari tauhid.

Dunia pun tertuntun di atas hidayah. Manusia hidup di atas kejelasan jalan hidup. Sebab, itulah maksud, tujuan, dan hasil dari tauhid.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An‘ām: 82)

Keamanan dan Hidayah adalah Milik Ahli Tauhid

Orang-orang yang beriman, bertauhid, dan tidak mencampurkan tauhid serta keimanan mereka dengan kesyirikan:

  • Ulā’ika lahumul-amn” — Merekalah orang-orang yang benar-benar memperoleh keamanan, baik di dunia, di alam barzakh, maupun di akhirat.
  • Wahum muhtadūn” — Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan hidayah, hingga hidayah tersebut menjadi bagian dari sifat dan jati diri mereka.

Maka, keamanan adalah kepastian bagi orang-orang yang bertauhid. Hidayah dan petunjuk adalah kepastian bagi orang-orang yang bertauhid. 

Dengan keamanan, mereka:

  • hidup bahagia,
  • hidup damai,
  • hidup tenteram,
  • merasakan kenikmatan hidup yang sejati.

Dengan hidayah, mereka:

  • selamat dari kesesatan,
  • selamat dari ketergelinciran,
  • hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan sejati.

Hidup di Muka Bumi Adalah untuk Bertauhid

Inilah hakikat kehidupan manusia:

  • Hidup untuk bertauhid.
  • Bertauhid untuk meraih kemuliaan, keamanan, keselamatan, kedamaian, dan kenikmatan tertinggi dalam kehidupan dunia.

Sejak awal penciptaan alam semesta, tujuan itu telah ditetapkan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Tujuannya adalah agar mereka mentauhidkan-Ku, dan memberikan ibadah hanya kepada-Ku. 

Upaya Setan Merusak Tauhid

Namun, wahai jamaah... 

Betapapun jelasnya tauhid, terang benderangnya tauhid, dan dahsyatnya pengaruh tauhid dalam kehidupan — setan dan Iblis  la‘natullāh ‘alaih — sangat memahami bahwa tauhid adalah penghancur seluruh makar dan tipu dayanya.

Maka mereka terus-menerus berupaya agar tauhid ini:

  • tersingkir,
  • ilmunya dilupakan,
  • keyakinannya tercabut,
  • amalnya ditinggalkan,
  • dakwahnya lepas (terabaikan),
  • kesabaran di atasnya hilang,
  • kesyukuran terhadapnya lenyap...

Hingga akhirnya, terjadi lagi: 

  • bencana,
  • kerusakan,
  • kenistaan, dan
  • kehinaan di dalam lumpur kesyirikan.

Pemimpin Keempat: Nabi ‘Īsā 

Namun, subḥānallāh, jamaah sekalian...

Sang Penguasa alam semesta:

  • Maha Baik,
  • Maha Mengetahui,
  • Maha Melihat,
  • Maha Merahmati,
  • Maha Mulia,
  • Maha Perkasa,
  • Maha Bijaksana,

dan maha dengan segala kemuliaan yang tak tertandingi.

Dengan seluruh ke-Maha-an dan kehebatan-Nya, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tetap dan senantiasa menurunkan nilai-nilai tauhid, menurunkan hidayah-Nya, menurunkan cahaya-Nya. 

Diutuslah kembali para nabi dan rasul. Diturunkan lagi kitab-kitab. Hingga akhirnya Allah mengutus pemimpin dunia yang keempat, yaitu: ‘Īsā ‘Alaihissalām, yang diciptakan oleh Allah dengan keajaiban, tanpa kehadiran seorang ayah.

Keajaiban Bukan Dalil Ketuhanan

Namun, keajaiban penciptaan beliau tidak bisa menjadi dalil untuk mempertuhankannya, apalagi menjadikannya sebagai anak Tuhan, atau bahkan Tuhan itu sendiri.

Karena:

  • Beliau tetap makhluk,
  • Beliau diciptakan,
  • Beliau dikuasai oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā,
  • Beliau makan dan minum,
  • Bahkan, pernah dalam kondisi terancam.

Dakwah Nabi ‘Īsā dan Makar Musuh Allah

Dakwah beliau tersebar luas, kuat, dan mengakar. Namun, makar dari musuh-musuh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā — kaum Yahudi, yang saat itu menjadi penguasa — bekerja sama dengan salah satu murid pengkhianat Nabi ‘Īsā ‘Alaihissalām yang sekarang dipertuhankan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pemuja Nabi ‘Īsā ‘Alaihissalām.

Pengkhianat itu akhirnya menemukan tempat persembunyian Nabi ‘Īsā ‘alaihissalām. Mereka pun datang dengan pasukan, dengan tujuan untuk membunuh Nabi ‘Īsā ‘alaihissalām. 

Masuklah murid pengkhianat itu untuk mengecek dan memeriksa keadaan di dalam. Namun ternyata, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengangkat Nabi ‘Īsā ke atas langit. Dan di akhir zaman, beliau akan diturunkan kembali sebagai nabi dan rasul, sekaligus sebagai umat Nabi Muḥammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang akan menegakkan ajaran beliau. 

Murid pengkhianat itu kemudian keluar. Maka Allah jadikan wajahnya serupa dengan Nabi ‘Īsā. Dialah yang akhirnya ditangkap, disalib, dan terbunuh.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَـٰكِرِينَ

Mereka melakukan makar, dan Allah pun membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas makar.” (QS. Āli ‘Imrān: 54)

Namun, dakwah tauhid telah sampai. Ini menjadi sebab-sebab kebaikan besar. Akan tetapi, setan tidak akan pernah membiarkan dakwah ini. Ia terus mengupayakan makar dalam berbagai bentuk. 

Ia menggunakan senjatanya, kekuatannya, kemampuannya untuk memperdaya umat manusia, melalui pasukannya dari kalangan jin dan manusia. Ia terus melakukan makar, hingga dakwah itu melemah, mengabur, bahkan nyaris hilang. 

Masa-masa mengaburnya dakwah Nabi ‘Īsā ‘alaihissalām tampak jelas dalam kisah Salman al-Fārisī raḍiyallāhu ‘anhu.

Pemimpin Kelima: Nabi Muhammad 

Hingga akhirnya, Allah mengutus nabi terakhir, pemimpin dunia yang kelima, yaitu:

Muḥammad ṣallallāhu ‘alaihi wa ‘alā ālihi wa sallam — yang terbaik, termulia, tak tertandingi, dan paling dicintai oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Beliaulah yang mengajarkan tauhid dengan pengajaran paling sempurna. Beliaulah yang memberantas kesyirikan dengan metode paling sempurna. Dan beliaulah yang diutus oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā sebagai: "Raḥmatan lil-‘ālamīn" — rahmat bagi seluruh alam.

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’: 107)

Seluruh nabi dan rasul sebelumnya diutus sebagai rahmat, sebagai pembawa kebaikan dan kemuliaan.

Menggunakan lafaz “alā” yang menunjukkan kenikmatan, dalam Islam kenikmatan itu mengakar, kuat, dan kokoh. Berbeda dengan seluruh bentuk kenikmatan duniawi yang membutakan manusia, melalaikan manusia, bahkan membuat menjerumuskan ke dalam kesyirikan.

Kenikmatan yang sebenarnya dalam kehidupan adalah saat kita merasakan nikmatnya bertauhid, hidup di atas agama Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Dan tidak berhenti sampai di sini, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menegaskan selanjutnya:

وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينٗا

Dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (QS. Al-Mā’idah: 3)

Di sinilah keridaan Allah. Dan di sinilah kita akan meraih puncak kenikmatan di surga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ketika para penduduk surga telah merasakan kenikmatan:

مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.”

Kenikmatan yang teramat dahsyat, teramat luar biasa. Dalam kondisi nikmat seperti ini, Allah mendatangi mereka dan mengatakan, “Aku akan berikan janji-Ku kepada kalian.” 

Mereka pun terhentak. “Janji apa lagi? Pemberian apa lagi yang lebih nikmat dari semua ini?”

Ternyata... masih ada yang lebih agung dari itu. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menghalalkan rida-Nya untuk para penduduk surga ketika itu.

Keridaan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā adalah puncak segalanya; puncak harapan dan puncak pengejaran kita.

Di sanalah letak:

  • Kenikmatan — seutuh kenikmatan,
  • Kemuliaan — setinggi-tinggi kemuliaan,
  • Kedamaian — seluas-luas kedamaian,
  • Keamanan — sehebat-hebat keamanan.

Saat keridaan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dihalalkan untuk kita, itulah saat di mana kita akan melihat wajah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā: 

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka memandang kepada Rabbnya.” (QS. Al-Qiyāmah: 22–23)

Wajah-wajah mereka ketika itu bercahaya. Kenapa? Mereka memandang hanya kepada Rabbnya. Itulah kenikmatan yang tiada tandingannya, itulah puncak pencapaian orang-orang yang bertauhid.

Lima Pemimpin Dunia-Akhirat

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. 

Lima pemimpin dunia adalah:

  • Lima teladan yang tak tertandingi.
  • Lima kemuliaan yang tak terjangkau oleh siapa pun juga.
  • Lima teratas, yang menenggelamkan dan meruntuhkan siapa pun yang mencoba mendekatinya dalam keutamaan.

Semua gelar terhebat, semua pujian tertinggi, semua kehormatan termulia yang disematkan kepada manusia (siapa pun juga) — akan rontok di hadapan lima pemimpin yang teratas ini.

Mau lihat buktinya

Nabi Nūḥ ‘alaihis-shalātu was-salām, berapa lama sudah sampai sekarang? Dan adakah orang sekarang yang mengingkari, tidak mengetahui, bahkan mengingkari kemuliaan Nabi Nūḥ ‘alaihis-shalātu was-salām?

Saya sampai terheran-heran. Kadang kalau sesekali, ada juga pengalaman hitam membaca komik. Ada komik buatan orang Jepang — tidak perlu saya sebutkan namanya. Tokoh utamanya, gurunya atau orang saktinya namanya adalah Nuh, yang disebut Noah dalam terjemahan mereka. 

Mereka orang penyembah matahari, dari mana kenal Nuh? Walaupun penggambarannya gila-gila, bisa mencipta, bisa ini, dan seterusnya, tetap saja tokoh itu merujuk kepada Nabi Nūḥ ‘alaihis-salām. 

Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām, Khalīlullāh, adalah manusia yang paling dicintai oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Dan ketentuan cintanya Allah, seluruh makhluk yang ada di muka bumi pasti mencintainya.

Lihatlah para pemimpin Yahudi saat ini — manusia yang sangat terlaknat dan bejat. Namun ketika ditanya, “Siapa Nabi Ibrahim?”, mereka tetap menganggapnya mulia.

Demikian pula pemimpin Nasrani. Ketika ditanya, “Siapa Nabi Ibrahim?”, mereka akan menjawab dengan penghormatan tinggi. Bahkan jika engkau mencela Nabi Ibrahim di hadapan mereka, mereka siap mati demi membelanya. Begitulah Allah mengangkat derajat Nabi Ibrahim. Tidak ada yang bisa mengingkari kemuliaan itu.

Adapun Nabi Musa 'alaihis salam, subḥānallāh, kemuliaan beliau begitu dahsyat. Tidak ada yang mampu menolaknya, sampai-sampai lahirlah sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang brutal dan tanpa batas dari sebagian kaum Yahudi terhadap beliau — sebagaimana kondisi mereka hari ini. 

Sementara Nabi Isa ‘alaihis-shalātu was-salām, adalah salah satu dari ayat-ayat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dalam kemuliaan. Tampaknya, tidak ada nabi atau rasul lain yang dimuliakan dengan pemuliaan ‘melewati batasʼ sebagaimana Nabi Isa ‘alaihis-shalātu was-salām. 

Lihatlah kaum Nasrani. Agama mereka, yang kini menjadi agama dengan jumlah pemeluk terbanyak, menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan. Inilah cara pemuliaan yang salah — bahkan sampai pada tingkat kekafiran.

Namun, yang menjadi pembahasan kita di sini — perhatikan, wahai jamaah — Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menjadikan kelima nabi ini sebagai pemuka umat manusia, tanpa tandingan. Kemuliaan mereka tidak terbatas.

Adapun Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam, maka seberapa pun kita bercerita tentang beliau, kemuliaannya tidak akan pernah habis. Beliau adalah manusia yang paling mulia sepanjang masa.

Bahkan seorang kafir yang mempertuhankan Nabi Isa ‘alaihis salām, meletakkan Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam — yang sebenarnya ia ingkari — sebagai tokoh nomor satu di dunia.

Penulis buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, menempatkan nabi mereka di urutan tertentu, sedangkan Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam justru berada di peringkat pertama. 

Jamaah sekalian, kedudukan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam tampak sejelas-jelasnya — tidak bisa disangkal.

Bahkan di hadapan orang yang paling memusuhi beliau, yang paling dendam, yang paling membenci Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam, hati mereka yang paling dalam tidak akan mampu mengingkari kemuliaan sosok manusia ini dan tingginya kedudukan beliau. Di hati yang paling dalam, mereka tidak akan pernah bisa memungkiri itu.

Apalagi bagi mereka yang tidak menampakkan permusuhan kepada Islam, seperti sebagian umat dari agama-agama lain.

Dan inilah yang menjadi tiga akar utama dalam memahami dahsyatnya tauhid. Tiga perkara ini sangat tampak dalam seluruh perjalanan hidup para nabi dan rasul ‘alaihimus salām. Seluruhnya mengajak kepada tauhid ini — pada tiga perkara tersebut.

Inilah yang dikenal dengan Tsalāṫul Ushūl. Dalam kajian-kajian Islam, istilah Tsalāṫul Ushūl memiliki banyak makna. 

Ini dikenal dengan Tsalāṫul Ushūl. Dalam pengajian-pengajian, Tsalāṫul Ushūl memiliki banyak makna. Ada Tsalāṫul Ushūl, yaitu tiga pertanyaan di alam barzakh. Ada Tsalāṫul Ushūl, yaitu tiga usul yang disepakati seluruh nabi dan rasul. Ada pula Tsalāṫul Ushūl, tiga usul yang merupakan kekokohan hati setiap orang yang beriman — yang tidak mungkin dikhianati oleh orang-orang beriman.

Yang disebutkan oleh Nabi dalam hadits riwayat Muslim:

ثَلَاثٌ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَالنَّصِيحَةُ لِوُلَاةِ الْأَمْرِ، وَلُزُومُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ

Tiga perkara yang tidak akan dikhianati oleh hati seorang Muslim: memurnikan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum Muslimin, dan tetap bersama jamaah kaum Muslimin.” (HR. Muslim)

Mentauhidkan Allah, selamat dari syirik. Kokoh di atas agama Allah Subhanahu wa Ta‘ālā, di atas petunjuk nabi dan rasul, tidak berpecah belah. Lalu apa? Menasihati penguasa. Tidak keluar dari hal itu.

Dan tiga ushul yang terakhir itu adalah tiga ushul yang disebutkan pertama dalam Al-Uṣūl As-Sittah. Enam ushul—tiga yang pertama itu. Dan ini pula yang disebutkan sebagai tiga perkara pertama dalam Masā’il Al-Jāhiliyyah, dari lebih dari seratus perkara. Tiga pertama ini juga.

Tapi tiga usul yang kita maksud di sini — ini dia — pemurnian ibadah hanya kepada Allah, selamat dari selain Allah. Pemurnian ketaatan di atas petunjuk Allah melalui nabi dan rasul-Nya, selamat dari hal-hal yang tidak sejalan di atas ini, perkara yang diada-adakan, dan seterusnya.

Dan semua hidup hanya untuk akhirat. Hanya untuk akhirat. Hanya untuk akhirat.

Meneladani Dakwah Panjang Nabi Nuh

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan oleh Allah Subḥānahu wa Taʿālā. Marilah kita melihat bagaimana Nabi Nūḥ ʿalaihis-salām mendakwahkan perkara ini. Berapa lama beliau berdakwah? Ayo, berapa lama? Lima puluh tahun? Bukan. Bukan usia beliau ʿalaihis-salām. Itu adalah masa dakwahnya. 

Usia beliau, ada yang mengatakan bahwa beliau diangkat menjadi nabi dan rasul pada usia 40 tahun. Kemudian beliau berdakwah selama 950 tahun. Setelah itu, beliau masih hidup selama 40 tahun. Ada juga yang berpendapat bahwa beliau telah berusia ratusan tahun sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul. 

Intinya, 950 tahun itu adalah masa dakwah beliau. Beliau masih hidup setelah itu. Banyak pendapat mengenai hal ini. Namun yang jelas, yang secara langsung disebutkan dalam Al-Qur’an adalah bahwa masa dakwah beliau selama 950 tahun. Itulah panjangnya masa dakwah Nabi Nūḥ ʿalaihis-salām.

Dalil dari Al-Qur'an:

فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا

Maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabūt: 14)

Perhatikan dalam Surah Nuh, bagaimana metode dakwah yang dilakukan oleh Nabi Nuh 'alaihissalam. Beliau berdakwah secara terang-terangan, sembunyi-sembunyi, kemudian kembali secara terang-terangan dan juga sembunyi-sembunyi. Semua metode beliau gunakan untuk menyeru umat kepada tauhid.

Lalu bagaimana bentuk penentangan terhadap dakwah beliau? Subhanallah, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan siapa yang menentang dakwah tersebut. Jika kita perhatikan, meskipun tidak sempat menguraikannya secara rinci, kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang menentang dakwah para nabi dan rasul justru adalah:

  • Para pemimpin umat pada masa itu,
  • Para penguasa,
  • Orang-orang yang terkaya,
  • Mereka yang memiliki banyak pengikut, dan
  • Tokoh-tokoh masyarakat yang paling dikenal.

Mereka inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai kubarā’ — yakni para pemuka dan penguasa yang menjadi barisan terdepan dalam menolak seruan para rasul.

Dalil dari Al-Qur'an:

وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا

Dan mereka melakukan makar yang besar.” (QS. Nūḥ: 22)

Apa yang mereka lakukan? Apa yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang kaum Nabi Nuh? Mereka melakukan makar. Makar, dalam istilah sekarang, adalah tipu daya atau rencana jahat. Padahal, tanpa halangan sekalipun, dakwah Nabi Nuh sudah sangat berat—karena beliau berusaha mencabut kesyirikan yang telah tertanam kuat oleh setan selama ratusan tahun. Apalagi jika dakwah itu dihadang dengan makar sebesar itu. 

Namun, Nabi Nuh tetap sabar. Sabar dengan kesabaran yang terdahsyat. Karena itulah beliau termasuk ke dalam golongan ulul azmi.

Tapi hebatnya jemaah, kedahsyatan tauhidnya Nabi Nuh 'alaihissalam justru dipuji dalam Al-Qur'an bergandengan bukan dengan kesabaran, tapi dengan kesyukuran.

Dalil dari Al-Qur'an:

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

Keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isrā’: 3)

Nuh adalah seorang ‘abdan, hamba yang paling sempurna tauhidnya, lagi syakūrā — sangat bersyukur. Padahal, bagaimana kehidupan beliau? Penuh ujian. Terutama dalam dakwah tauhid. Tidak terhitung beratnya. Bagaimana ucapan-ucapan yang ditujukan kepadanya? Cacian, hinaan yang luar biasa. Bagaimana dengan ancaman yang beliau hadapi? Subhanallah, begitu besar dan berat. 

Lalu bagaimana hasil dakwah beliau? Pengikut beliau dapat dihitung dengan jari. Yang benar-benar beriman hanya sedikit sekali. Bahkan, yang banyak berada di atas kapal Nabi Nuh justru bukan manusia, melainkan hewan — makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala selain manusia. Itu semua beliau jalani selama 950 tahun. 

Tetapi jemaah sekalian, manusia yang selamat saat itu justru siapa? Mereka adalah nenek moyang umat manusia. Setelah Nabi Adam 'alaihissalam, datanglah perusakan dan penyimpangan. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Nabi Nuh 'alaihissalam, dan menghancurkan semuanya kecuali orang-orang yang beriman.

Maka, generasi setelah itu — jika kita berbicara tentang nenek moyang — harus kembali kepada tauhid. Harus kembali kepada ajaran Allah Subhanahu wa Ta'ala. Harus kembali kepada pemurnian ibadah hanya kepada-Nya.

Sebab itulah nenek moyang kita yang sebenarnya: mereka yang bertauhid, yang lurus dalam menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala, beratnya dakwah ini. Beliau mengajak kepada umatnya:

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al-A‘rāf: 59)

Ini tauhid. Terus di atas dua ini, tegakkan ibadah kepada Allah, jangan kepada selain-Nya.

Tidak cukup dalam bertauhid, beribadah kepada Allah, salat kepada Allah, menangis dalam berdiri dalam sujud, tetapi masih mengakui sembahan selain Allah, masih berdoa kepada selain Allah, masih memohon kepada selain Allah, masih membesarkan selain Allah, masih mengharapkan rezeki kepada selain Allah, maka belum bertauhid, belum ber-laa ilaaha illallaah.

Siapa yang menyatakan laa ilaaha illallaah dan dia kafiri (ingkari) semua yang disembah selain Allah, barulah Muslim.

Tidak cukup sekadar berucap, jemaah. Harus diyakini, harus diilmui, harus diucapkan, harus diamalkan. Dan pengamalannya harus dua ini: 

  • laa ilaaha — tolak semua yang disembah selain Allah. Jangan pernah mengakuinya di lisan, bahkan di hati, apalagi dalam perbuatan. 
  • illallaah — tetapkan hanya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dalam hati, lisan, dan dalam perbuatan kita, terus-menerus. Sampai kapan?

Dalil dari Al-Qur’an:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).” (QS. Al-Ḥijr: 99)

Wasiat Nabi Nuh


Nabi Nuh terus mendakwahi kaumnya. Berat, sangat berat. Tapi lihat hasilnya: istrinya pun termasuk penduduk neraka. Anaknya pun termasuk orang yang digilas oleh ombak, kecuali anaknya yang terakhir hidup dalam selamat. Di sana, saat beliau meninggal, beliau berwasiat kepada anaknya. 

Apa wasiat terakhir itu? Wasiat itu adalah ilmu terbesar. Ilmu terbesar—warisan nabi dan rasul. Wasiat Nabi Nuh ‘alaihissalām. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam—iya, sampai kepada Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan diabadikan menjadi ilmu untuk umat Nabi Muḥammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. 

Nabi Nuh berwasiat. Lihat wasiat pertamanya kepada anaknya:

آمُرُكَ بِلا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Aku perintahkan engkau untuk memegang lā ilāha illallāh.”

Setelah itu, beliau mendorong anaknya dengan ilmu:

Seandainya tujuh langit ini dan tujuh bumi ini diletakkan dalam sebuah timbangan—langit tujuh di satu sisi timbangan, dan lā ilāha illallāh di sisi timbangan yang satunya—maka pasti lā ilāha illallāh akan lebih berat.

Beliau melanjutkan:

Seandainya tujuh langit ini dan tujuh bumi ini terikat seperti gelang yang sangat kuat, maka pasti lā ilāha illallāh mampu menghancurkannya.

Itu adalah ajaran tauhid. Rasul yang pertama diutus terus-menerus membawa ajaran ini. Dan Nabi menyampaikan wasiat ini kepada umat, supaya menjadi ilmu yang terus diwariskan hingga akhir zaman. 

Karena itulah, tidak ada satu pun amalan kecuali pasti akan sangat berat nilainya ketika berada di atas tauhid. Tidak ada satu pun amalan kecuali pasti akan sangat dahsyat dampaknya ketika dibangun di atas tauhid. Dan tidak ada satu pun dosa—ketika dihadapkan dengan tauhid, ketika pelakunya memiliki dasar tauhid—kecuali pasti akan hancur, terbakar seluruhnya.

Sebagaimana dalam hadis bitaqah:

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Diteraki seorang lelaki dari umatku pada hari kiamat.”

Diterak untuk apa? Diperlihatkan dosa-dosanya. Didatangkanlah 99 lembar catatan dosa. Satu lembar maddal bashar sejauh mata memandang semuanya dosa. Semuanya dosa. Satu lembar catatan sejauh mata memandang semuanya dosa. Dan dia punya 99 mengerikan dosa. Sampai si pelaku dosa sendiri ketika ditanya apakah kamu punya amalan? Dia hanya mampu mengatakan tidak ada.

Tapi Allah tegaskan:

فَإِنَّكَ لَا تُظْلَمُ الْيَوْمَ شَيْئًا

“Maka sesungguhnya kamu tidak akan dizalimi sedikit pun pada hari ini.” (HR. At-Tirmidzi, hadis bitaqah, makna serupa diriwayatkan juga dalam Musnad Ahmad)

Tetap ditegakkan timbangan. Ternyata dia punya amalan tertulis dalam kartu kecil, ditimbang 99 dosa. Ini kartu kecil dinaikkan. Ternyata 99 lembar ini terbang ke atas yang menunjukkan apa? Beratnya kartu kecil itu. Selamat dari neraka, masuk ke dalam surga.Sebab amalan kebaikannya lebih berat. Dalam kertas itu tertulis ashadu alla ilaha illallah wa ashadu anna Muhammadar Rasulullah.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, lihat pelajaran besar yang kita bisa ambil dari dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Ketika Abdullah Ibnu Abbas menceritakan. Abdullah Ibnu Abbas menceritakan, ahli tafsir sepupu Nabi yang langsung didoakan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam supaya bisa memahami tauhid dengan sehebat-hebatnya, sedahsyat-dahsyatnya. Maka apa?

Lihat beliau ketika menafsirkan w, mereka-mereka ini para pembesar setelah melakukan makar, maka mengupayakan umat dengan perintah, dengan ancamannya. Jangan sekali-sekali kalian tinggalkan sembahan-sembahan kalian. Jangan kalian tinggalkan Wadd, Suwa', Yaghuth, Ya'uq, dan Nasr.

Dalil dari Al-Qur'an:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu, dan jangan pula kamu meninggalkan Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr.”” (QS. Nūḥ: 23)

Beliau mengatakan semua yang disembah ini, nama-nama yang disebut ini adalah nama orang-orang saleh, bukan penjahat. Nama orang-orang saleh, para ulama, orang yang dicintai oleh umat. Kenapa jadi sembahan? Kenapa patung-patungnya jadi sembahan? Kenapa kuburan-kuburan mereka jadi sembahan? Kenapa jadi berhala selain disembah, yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala?

Ternyata lihat, lihat bagaimana setan menjerumuskan. Di sini kita bisa mengetahui bagaimana setan menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan. Dan di sini kita bisa mendapatkan ilmu. Mau selamat dari kesyirikan, mau memperhebat tauhid, pahami betul perkara ini, peristiwa ini.

Saat mereka meninggal secara fitrah, umat bersedih. Sedih karena cinta atas kehilangan orang yang dicintai itu masih wajar. Mencintai orang yang memberi ilmu kepada kita itu adalah nilai-nilai iman, kebaikan. Hanya dalam kesedihan setan bisa masuk. Dia asah kesedihan itu supaya meningkat. Dia munculkan rasa cinta itu supaya meningkat lewat batas sedikit. Masih sedikit lewat batasnya.

Dengan cara apa? Setan bisikkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh para ulama ini, tapi maksudnya sangat baik dan tidak ada dari mereka yang bisa menolaknya. Apa itu? Buatkan patungnya, buatkan gambarnya, buatkan lukisannya. Sekarang namanya prasastinya dan seterusnya. Kenangan-kenangan. Kemudian tempatkan di mana mereka biasa mengajar.

Hasilnya apa? Mereka buat. Apa yang mereka rasakan? Wih, sangat bagus ini. Kenapa? Sebab ketika dilihat patungnya, dilihat gambarnya, muncul semangatnya, teringat ilmunya, sampai akhirnya apa? Wih, bagus sekali nih. Wah bagus sekali nih. Teringat lagi. Teringat lagi.

Tetapi jemaah, ternyata pelanggaran kecil ini tujuan setan bukan di sini. Ini kita kenal dalam istilah agama bid'ah. Bid'ah dalam gambar, dalam mengagungkan para ulama, para penguasa, orang-orang yang dibesarkan. Itu bid'ah, belum masuk ke dalam kesyirikan. Tapi itu pangkalnya.

Akhirnya, apa yang buat gambar ini, yang sering mengingat, merasakan manfaatnya dalam cara seperti itu? Wafat semuanya. Kita gak tahu berapa generasi itu wafat. Kita gak tahu berapa puluh tahun, bahkan mungkin ratusan tahun wafatnya. Muncul generasi selanjutnya. Tidak ada yang pernah tahu kenapa ada gambar ini. Gak ada yang pernah tahu kenapa ada patung ini. Mereka hanya melihat kebiasaan yang sudah terjadi.

Setan masukkan lagi. Ketika ilmu dilupakan, beliau tegaskan, wusial 'ilm. Ilmu terlupakan. Ilmu terlupakan. Maka dimasukkan itu tidak lain. Orang ramai di situ. Sebab apa? Syafaatnya mereka dalam berdoa kepada Allah tembus. Dimasukkan ke dalam apa? Belum syirik. Belum syirik. Tapi apa? Syirik Asghar dalam istilah sebagian ulama.

Wasilah kepada syirik. Dalam istilah sebagian ulama, berdoa kepada Allah, meminta kepada Allah bukan kepada patung-patung tetapi mereka menganggap berdoa di tempat mereka itu afdal, itu hebat, itu mulia, lebih bagus. Akhirnya bukan sekedar sebagaimana generasi pertama sekedar mau mengingat jasanya, tapi sudah jadikan apa? Tawasul dalam doa. Tapi masih berdoa kepada Allah.

Generasi ini yang membesarkan ini hilang lenyap lagi. Muncul generasi selanjutnya. Setan masukkan lagi di sini pamungkasnya. Generasi kedua, kita tidak tahu berapa lama setan nantikan keberhasilannya. Mungkin 50 tahun, mungkin ratusan tahun, sampai masuk ke generasi selanjutnya.

Iya, sudah tersebar doa seperti ini. Beliau masukkan. Itu tidak lain karena mereka bisa menjadi perantara. Akhirnya apa? Doanya sebelumnya, "Ya Allah, melalui tempat yang baik ini saya meminta kepadamu." Sekarang langsung, "Wahai Wadd, wahai Suwa’, wahai Yaghuts," langsung minta.

“Wahai Wadd, wahai Wadd, sampaikan hajatku kepada Allah. Sampaikan hajatku kepada Allah.” Ah, di sini syari, ini syirik akbar sudah. Sebab mengambil syafaat selain Allah. Yang Allah katakan:

قُلْ لِلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًۭا

Katakanlah: “Hanya milik Allah segala syafa’at.”” 
(QS. Az-Zumar: 44)

Jangan minta kepada selain-Nya. Yang orang-orang musyrikin bilang:

هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ

Mereka-mereka itu pemberi syafa’at kami di sisi Allah Subḥānahu wa Taʿālā.” (QS. Yunus: 18)

Yang mana maksud mereka sangat baik.

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰ

Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

Hebatnya ini maksud, tetapi tersesatnya ini jalan. Dan saat maksud sangat hebat dan jalan tersesat, banyak-banyak orang ketika mengandalkan perasaan gugur. Itulah kondisi orang musyrikin kebanyakannya.

Nabi Nuh lihat menghadapi manusia seperti ini 950 tahun. Susahnya mengeluarkan itu keyakinan untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan itu kenyataan sebagaimana yang kita alami saat ini.

Syirik terbesar paling sulit dihadapi, paling sulit dipahamkan. Syirik sehubungan dengan orang saleh, sehubungan dengan kuburan orang saleh. Syirik yang berhubungan dengan apa? Bertawasul kepada mereka dalam doa dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Paling sulit. Paling sulit.

Tetapi Nabi Muhammad ṣallallāhu ʿalaihi wasallam paling sempurna mengentaskan perkara ini. Karena itu lahir umat yang terbaik, betul-betul bebas dari perkara ini. Lahir generasi sahabat, betul-betul bebas dari perkara ini.

Melahirkan generasi terbaik selanjutnya. Tābiʿīn betul-betul bebas dari perkara ini. Melahirkan generasi selanjutnya. Atbāʿut Tābiʿīn betul-betul bebas dari perkara ini. Yang sampai di zaman Atbāʿut Tābiʿīn saja belum ada kesyirikan.

Tapi di situ sudah mulai muncul ada orang yang mau mendatangi kuburannya Nabi, mau berdoa kepada Allah. Tidak ada orang yang mau berdoa kepada Nabi saat itu, tetapi dilihat oleh cucunya Nabi yang dikenal dengan nama gelar Zainul ‘Ābidīn, pemukanya Tābiʿīn, anaknya ʿAlī raḍiyallāhu ʿanhu dari al-Ḥasan.

Dilihat maka beliau katakan apa? Dia panggil, "Ayo makan malam ke rumah saya." Untuk apa? Untuk diberitahu. Saya ingin sampaikan kepada kamu hadis. Saya langsung dengar dari bapakku. Bapakku dari nenekku, nenekku dari bapaknya, dari Nabi ṣallallāhu ʿalaihi wasallam.

Silsilah Ahlul Bait untuk menyampaikan apa? Bahwa Nabi ṣallallāhu ʿalaihi wasallam mengatakan:

صَلُّوا عَلَيَّ حَيْثُمَا كُنتُمْ

“Bershalawatlah kepadaku di mana pun kalian berada.”

Beliau ingatkan juga:

لَا تَجْعَلُوا قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ

“Jangan kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”

Jangan kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Boleh ingatkan. Jangan kalian jadikan kuburanku id sebagai sesuatu yang sering didatangi-didatangi. Belum syirik tapi Nabi sudah larang. Belum terjadi doa kepada Nabi, tapi Nabi sudah putuskan. Lihat bagaimana Nabi ṣallallāhu ʿalaihi wasallam menjaga perkara ini agar supaya tetap terjaga. Nabi yang paling berhasil mendakwahkan tauhid ini.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan oleh Allah Subḥānahu wa Taʿālā. Ini Nuh ʿalaihis-salām. Adapun Nabi Ibrahim ʿalaihis-salām imām ḥunafā’, imamnya ahli tauhid. Sampai Nabi kita pun disuruh an-ittabiʿ millata Ibrāhīma ḥanīfan. Ikuti agamanya Nabi Ibrahim yang lurus dan hanif itu.

Nabi Ibrahim sangat dikenal dengan kesempurnaan sifatnya di atas ketauhidan. Sampai-sampai walaupun yang mengikutinya dihitung jari, tetapi Allah mensifatinya sebagai apa? Ummatan. Umat. Sebab apa? Sebab apa? Ketinggian kedudukannya. Dan memang semua orang yang bertauhid setelahnya adalah hasil usaha beliau. Sebab semua nabi dan rasul setelahnya adalah turunan-turunan beliau, hasil dakwah anak cucu beliau. Bagaimana tidak, beliau dalam menyampaikan tauhid betul-betul sempurna di atas perkara ini.

Seorang diri dihancurkan berhala, seorang diri dia tegakkan tauhid. Sampai Allah nampakkan mukjizat kedahsyatan tauhid. Dibakar, gak terbakar. Allah cukup katakan:

قُلْنَا يَـٰنَارُ كُونِى بَرْدًۭا وَسَلَـٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan (menjadi keselamatanlah) bagi Ibrahim.”” (QS. Al-Anbiyā’: 69)

Selamat bagi Nabi Ibrahim ʿalaihis-salām. Kerendahan dan kehinaan bagi orang-orang yang tidak mau melakukan tauhid ini, terus berada dalam gelim kesyirikan.

Nabi Ibrahim ʿalaihis-salām dalam kesempurnaan tauhidnya, jemaah. Satu yang terus diabadikan, terus diabadikan untuk kita supaya kita ingat adalah semua peristiwa manasik haji itu seluruhnya adalah kedahsyatan tauhid Nabi Ibrahim.

Dan ajaran Nabi Muhammad yang mengajarkan tauhid terdahsyat, terhebat, mendunia, tidak terpungkiri, terlihat oleh seluruhnya adalah nilai-nilai tauhid saat haji itu. Apalagi dalam pelaksanaan kurban. Dalam pelaksanaan kurban itu perwujudan kedahsyatan tauhid.

Sampai apa? Lihat nilai tauhid di situ. Allah mendidik. Lihat Nabi Ibrahim itu apa? Khalīlullāh. Orang yang paling dicintai oleh Allah. Allah cintai dengan cinta yang terdahsyat. Kenapa? Kenapa Nabi Ibrahim mencintai Allah dengan cinta terdahsyat pula sampai cintanya kepada anaknya Nabi Ismail ʿalaihis-salām yang dinantikan selama berapa lama?

Begitu lahir, besar, sangat membahagiakan, sangat menyenangkan. Begitu sudah mulai dewasa atau remaja, ternyata Allah suruh apa? Suruh apa? Disembelih. Untuk apa? Ujian tauhid untuk Nabi Ibrahim. Supaya apa? Kecintaan. Kecintaan sedikit, kecintaan sedikit, kecintaan yang mengurangi kecintaan, kemurnian, kedahsyatan kepada Allah. Allah inginkan lenyap juga. Allah inginkan lenyap juga.

Lihat jemaah, bagaimana klimaksnya kejadian itu. Diabadikan dalam Al-Qur’an:

فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 103)

Lihat, Allah barikan dengan kalimat apa? Tatkala Nabi Ibrahim sudah baringkan anaknya, pisau sudah di leher, tinggal, dan Allah bilang apa? Falammā aslamā, lihat bahasanya. Kondisi itu. _Tatkala keduanya telah Islam, tatkala keduanya telah memuncakkan tauhidnya, di sana bebas, selesai ujian._ 

Kalau nabi dan rasul jemaah terus diuji dalam bertauhid, apalagi kita jemaah. Cukuplah kekeliruan besar kita kalau kita menganggap saya sudah selesai pembahasan makna laa ilaaha illallah, saya sudah selesai pembahasan Kitabut Tauhid, saya sudah selesai pembahasan kitab ini. Cukup kekeliruan kita itu. Ilmu itu jemaah, ilmu yang terus-menerus harus dipelajari. Sebab ujian dalam ilmu itu terus sampai malakul maut datang menjemput.

Adapun Nabi Musa ʿalaihis-salām, maka kisah terbanyak dalam Al-Qur’an tentang nabi dan rasul adalah kisah Nabi Musa ʿalaihis-salām. Tidak ada yang mengalahkan banyaknya. Sebab ilmu akan dahsyatnya tauhid terhebat sangat diperlukan dari perjalanan hidup Nabi Musa ʿalaihis-salām. Itu tauhid dari kisah Nabi Musa itu khusus untuk menghadapi orang-orang yang menentang tauhid dalam taraf seperti orang-orang Yahudi sekarang. Keras dan sangat keras. Ilmu yang menghancurkan kekerasan itu ada dalam kisah Nabi Musa ʿalaihis-salām. Dan ilmu kedahsyatan Taurat itu ada dalam tujuh surah panjang dalam Al-Qur’an.

Adapun Nabi Isa ʿalaihis-salām, subḥānallāh jemaah, ilmu-ilmu tauhid dalam kisah hidup Nabi Isa ʿalaihis-salām dahsyat luar biasa. Tapi bersamaan dengan itu berubah menjadi seperti sekarang itu apa? Bertolak bukan 360 derajat. 360 derajat yang berulang-ulang, berulang-ulang tanpa batas. 

Terbalik-balik, terbalik-balik, terbalik-balik, terbalik-balik sudah. Nilai tauhid dari pengajaran Nabi Isa ʿalaihis-salām sampai beliau dianggap sebagai Tuhan. Bahagian dari Tuhan, atau anak Tuhan, atau Tuhan itu sendiri. Itu kekacauan besar. Itu memahamkan kepada kita jemaah mengerikannya makar setan untuk menjerumuskan hamba ke dalam kesyirikan.

Ingat-ingat, setan, iblis laʿnatullāh ʿalaih, di awal terlaknatnya, dilaknat oleh Allah ketika tidak mau mengikuti perintah Allah untuk menghormati Nabi Adam. Apa kata iblis?

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ، إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata: “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” ” (QS. Shād: 82–83)

Coba lihat, iblis tahu dahsyatnya keikhlasan. Iblis tahu hebatnya itu tauhid. Sebelum kita dicipta, sebelum ada Nabi Nuh, sebelum ada Nabi Muhammad ṣallallāhu ʿalaihi wasallam, sebelum ada nabi dan rasul yang lainnya, iblis sudah tahu dahsyatnya itu tauhid, hebatnya itu keikhlasan.

Karena itu jemaah, sangat betul-betul hebat ilmunya untuk menjerumuskan kita. Waspadai perdayaan setan menjerumuskan ke dalam kesyirikan melalui pintu: _satu, mentaati kekuatan syahwat. Yang kedua, mentaati kekuatan amarah. Dua pintu paling mematikan._ 

Kalau setan tidak berhasil langsung menjerumuskan seseorang menyembah selain Allah, mencintai selain Allah lebih dalam, cinta ibadah, mengharap kepada selain Allah, takut kepada selain Allah, menyerahkan ibadah kepada selain Allah, kalau setan tidak berhasil jerumuskan, maka dia akan masukkan ke dalam pelanggaran. Pelanggaran-pelanggaran memperturutkan syahwat. Memperturutkan syahwat. Memperturutkan syahwat. Sampai akhirnya dijerumuskan masuk ke dalam kesyirikan.

Lihat jemaah, ahli ibadah yang hebatnya ibadahnya itu, kisah, sampai apa? Sampai dia menyembah setan.

Apa sebab awalnya? Melalui wanita. Dijermuskan, dekatkan dengan wanita, terjatuh. Akhirnya apa? Semakin dalam di situ. Akhirnya dia membunuh, sampai akhirnya dia menyembah setan.

Pintu amarah. Weh, pintu amarah we. Itu langsung sangat dekat dengan kesyirikan. Makanya orang-orang yang, maaf, misalnya preman-preman yang searang sedikit membunuh, searang sedikit ingin mengamuk dan seterusnya, itu paling banyak jimat-jimatnya, bentuk kesyirikannya. Sebab itu memang kuat sekali daya tariknya. Memperturutkan amarah, sebentar-sebentar memukul, sebentar-sebentar ini dan seterusnya, itu mudah sekali masuk ke dalam kesyirikan.

Sebab itu, kezaliman dan kesyirikan adalah kezaliman terbesar. Kezaliman-kezaliman itu sudah menyatu, saling menarik, kuat. Dengan apa kita bisa selamat? Dengan bertauhid. _Ilmui, yakini, amalkan._ Perkuat makna laa ilaaha illallaah di atas petunjuk Nabi sallallahu ʿalaihi wasallam. Tidak ada yang mengalahkannya.

Tahqiq tauhid itu. Wujudkan tauhid itu dengan dua dasarnya. Ibadah hanya kepada Allah dengan tiga rukunnya: kemurnian cinta hanya kepada Allah, tidak yang lainnya; kemurnian harapan hanya kepadanya, tidak yang lainnya; kemudian takut hanya kepada, tidak lainnya. Ini kita wujudkan dalam semua ibadah kita. Kemudian wujudkan semua itu di atas petunjuk Nabi sallallahu ʿalaihi wasallam. Di situlah kehebatannya.

Selanjutnya, sempurnakan dengan apa? Terus meminta kepada Allah Subḥānahu wa Taʿālā supaya hati, ilmu, amalan seluruhnya di atas tauhid. Minta terus. Apapun usaha kita tidak akan pernah bisa berhasil kecuali hanya ketika yang Maha Memiliki memberikan kepada kita. Dan wujudkan doa di atas tauhid pula. Di atas nilai-nilai tauhid pula.

Tahkik tauhid itu, wujudkan semua ibadah hanya kepada-Nya, sampai selamatkan diri dari bukan hanya menyembah selain Allah, tetapi selamat juga dari apa? Sarana-sarana yang mengantar kepada penyembahan kepada selain Allah. Bahkan selamat dari apa? Dosa-dosa besar dari dua jalur itu: memperturutkan syahwat, memperturutkan amarah, di atas keindahan nilai-nilai syahwat atau di atas tipuan-tipuan syubhat. Hindarkan diri dari hal-hal itu. Iya. Bahkan hindarkan diri dari hal-hal yang kecil-kecil, bahkan yang makruh-makruh dan seterusnya. Kalau terjatuh, maka hadapi dengan kekuatan tauhid. Beristigfar kepada Allah Subḥānahu wa Taʿālā.

Ketahuilah jemaah, ajaran Nabi adalah ajaran paling sempurna dalam mengajarkan tauhid. Tapi bersamaan dengan itu, ada satu ayat. Ada satu ayat memerintah Nabi untuk terus mengilmui tauhid:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ilmuilah, ya Muhammad. Ilmui, ya Muhammad, bahwa laa ilaaha illallaah. Menyusul perintah: wastaghfir. Minta ampunlah, ya Muhammad, terhadap kesalahanmu. Mintakan ampunan juga terhadap kesalahan orang yang beriman lelaki dan wanita. Di sini lahir ilmu besar. ” (QS. Muḥammad: 19)

Semakin berilmu, pasti orang akan masuk ke dalam istigfar. Semakin mampu melihat cacatnya, semakin mampu melihat kesalahannya, semakin mampu melihat kekeliruan-kekeliruannya. Itu tauhid. Kalau tauhid, orang belajar tauhid, orang belajar tauhid, mewujudkan tauhid, mengamalkan tauhid, mendakwahkan tauhid, kemudian semakin tidak mampu melihat cacat dan kekurangannya, hanya mampu melihat cacat dan kekurangan orang, maka pasti cacat tauhid itu.

Yang cacat-cacat ini ketika berkumpul bisa mengaburkan tauhid dan memasukkan hamba ke dalam apa? Kelompok-kelompok seperti Khawārij, Murji’ah, Rāfiḍah, dan seterusnya. Itu karena apa? Pelanggaran-pelanggaran dalam memaknai tauhid. Karena itu jemaah, terus pelajari nilai-nilai tauhid ini.

Nabi Muhammad ṣallallāhu ʿalaihi wasallam adalah manusia yang paling sempurna menjelaskan akan makna-makna tauhid ini. Terakhir, ilmu ini sangat diperlukan untuk setiap kalangan: pemimpin sampai paling bawah, orang kaya sampai miskin, orang yang paling berbahagia sampai orang yang paling susah, lelaki dan wanita. Diperlukan kapan? Setiap saat sampai malakul maut datang menjemput.

Karena itu tanamkan tekad untuk terus menguasai ilmu ini. Sebab berapapun ilmu, upaya yang kita lakukan, maka ilmu tauhid luas tanpa batas, dalam tanpa dasar.

Semoga bermanfaat. Jika ada kurangnya mohon dimaafkan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Tidak ada komentar

Silakan berkomentar ..